3 Hal Wajib Diingat Ketika Merasa Gagal Dalam Hidup

Semua orang, apapun pekerjaannya, apapun gelar sarjananya, pernah merasa seperti menjadi pecundang, pernah merasa gagal dalam setiap aspek hidupnya. Kabar baiknya adalah, hal ini sebenarnya hanya perasaan anda saja.

1. Anda Masih Punya Hari Esok


Sumber Foto: thought catalog

Ketika anda merasa seperti sebuah contoh kegagalan yang nyata, sangat mudah rasanya untuk terus terjerumus dalam pikiran-pikiran gelap: bukan hanya hidup anda payah, tapi sepertinya anda ditakdirkan untuk menempati posisi-posisi paling payah dalam hidup.

Kabar baiknya adalah hal ini tidak benar. Tapi satu hal yang sebagian benar adalah, anda mungkin menjadi terlalu nyaman dalam posisi-posisi yang payah itu sehingga anda tanpa sadar “mengincar” posisi tersebut. Misalnya, anda biasa menjadi orang yang dilupakan dan tidak terlalu penting. Dalam setiap kesempatan berorganisasi, di lingkup apapun itu, anda mengincar posisi yang anda tahu anda sudah berpengalaman di situ: posisi yang terlupakan. Anda takut melompat ke posisi yang membuat anda memegang kendali dan “sangat dibutuhkan”. Percayalah, anda hanya tinggal memutuskan untuk membuat suatu perubahan besar pada diri anda dan dunia akan kembali berputar untuk anda.

2. Anda Bukan Satu-satunya Yang Merasa Seperti Ini

Sumber Foto: Confused Sandals

Kalau semua teman anda tampaknya punya pekerjaan yang menyenangkan, sementara anda hanya bisa menyeret diri anda ke kantor yang anda benci setiap harinya dengan menjanjikan diri anda kopi gratis dan menonton Netflix sepuasnya sampai mata anda kering, sangat mudah untuk jatuh dalam frustrasi. Tahukah anda, teman-teman anda pun merasa demikian. Mereka mungkin berada di perusahaan besar yang bergengsi, tapi mereka tidak merasa kemewahan kantor itu membuat hidup pribadi mereka juga mewah dan menyenangkan.

3. Anda Tidak Tahu Hidup Orang Lain Sebenarnya Seperti Apa

Sumber Foto: unwritten

Media sosial bisa membuat kita merasa seolah memahami hidup orang lain itu seperti apa – walaupun sebenarnya yang kita lihat adalah foto-foto dan video yang dikurasi. Tentu saja, walau dikurasi, foto dan video itu memang menggambarkan hidup seseorang, namun foto dan video itu mewakili satu porsi dari 100 persen hidup orang tersebut. Kenyataannya, anda tidak tahu dengan sesungguhnya bagaimana hidup teman facebook anda. Begitu pula dengan puncak-puncak kesuksesan mereka – anda tidak tahu bagian lainnya yang tidak diunggah ke media sosial.

Jadi, jika temanmu mengunggah foto yang menggambarkan betapa bahagia keluarganya dengan caption “Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?” Jawabannya, “Yang tidak kamu unggah ke media sosial” (AOZ)