Tentang ‘Bitcoin’ dan Bagaimana itu Digunakan di Jepang

Di era digital serba cepat yang tengah kita lalui saat ini, di mana banyak tumbuh ketidaksabaran atau keinginan untuk mendapatkan sesuatu dengan lebih cepat, orang-orangpun semakin frustasi dengan sistem perbangkan (transaksi bank online) yang rumit dan bisa menyesatkan bagi mereka yang kurang mengerti. Misalnya, kita membayar online untuk sebuah barang, namun itu tidak bisa dilakukan hanya dengan satu klik. Saat melakukan transaksi tersebut, kita seharusnya tidak hanya memberikan informasi pribadi kita dengan dua sampai tiga kali cek untuk memastikannya, melainkan juga harus berhati-hati terhadap kemungkinan adanya hacker atau situs web palsu yang mungkin berusaha memperoleh informasi pribadi kita.

Pemerintahan adalah Jepang satu dari banyak negara yang telah berhasil menemukan solusi utuk permasalahan diatas. Jika anda mengunjungi negara tersebut baru-baru ini, mungkin anda pernah melihat di convenience store yang saat ini menawarkan dan menjual cryptocurrency atau yang lebih dikenal dengan bitcoins dalam bentuk kartu

japan codes

Apa Sebenarnya Bitcoins?

jp.fotolia

Bitcoin pada dasarnya adalah sebuah mata uang kripto yang terdesentralisasi, di mana itu dapat dipergunakan sebagai alat tukar untuk barang dan jasa. Mulai 1 April 2017, Jepang telah mengeluarkan undang-undang untuk mengenali bitcoin sebagai metode pembayaran. Lebih dari 200.000 toko sekarang menawarkan layanan mereka di bidang bitcoin di samping uang tunai atau kartu kredit; Beberapa toko ini mencakup beberapa cabang BIC CAMERA, rantai restoran populer, salon rambut, hotel kapsul, dan banyak lagi. Pemerintah Jepang juga mengumumkan bahwa bitcoin tidak lagi harus menjalani pajak konsumsi, yang berarti dapat digunakan untuk melakukan pembayaran dan ditransfer secara digital tanpa 8% pajak konsumsi, sampai Maret 2017.

Yuzo Kano, CEO bitFlyer (situs pertukaran bitcoin Jepang), bermitra dengan retail terkenal Jepang BIC CAMERA pada bulan April 2017. Hal ini menyebabkan istilah dan sistem bitcoin menjadi virus dan menjadi lebih dapat dipercaya. "Kami memperkirakan bahwa beberapa toko ritel besar dan situs e-commerce akan memperkenalkan pembayaran bitcoin dalam tahun ini [2017]", seperti yang dikatakan CEO bitFlyer kepada Bitcoin.com.

Di beberapa restoran dan pertokoan Jepang, Anda juga bisa menemukan ATM bitcoin tempat Anda bisa membelinya mirip seperti sistem kartu pembayaran yang kita kenal di Indonesia saat ini.

Kenapa Bitcoin Melainkan Bank?

jp.fotolia

Sementara bitcoins mungkin bisa menjadi musuh baru bagi bank, pemerintah Jepang melihat potensi bitcoin, dan sebaliknya memutuskan untuk menawarkan pengambilan baru mereka dengan itu. Ada rencana yang dibicarakan untuk menciptakan sebuah kripto yang baru dengan nama "J-Coin", yang akan didukung oleh pemerintah dan juga ditawarkan oleh bank-bank seperti Japan Post Bank, sementara tidak memaksakan kerumitan transaksi perantara dan risiko.

Bitcoin bisa digunakan untuk membeli barang dan jasa. Anda juga dapat menarik bitcoin Anda dan mengkonversikannya ke uang tunai, walaupun banyak ahli menyarankan untuk tidak melakukannya, karena nilai BTC semakin meningkat. Dari bulan Januari sampai November 2017, nilai BTC telah naik sebesar 500%, dimulai dari sedikit di bawah 2.000 USD per BTC menjadi lebih dari 6.000 USD per BTC. Nilai meningkat karena semakin banyak orang mulai membeli dan mencarinya, dan langkah Jepang pada bulan April 2017 memberi kontribusi besar pada nilai bitcoin di seluruh dunia.

Jepang sudah memiliki beberapa metode pembayaran elektronik yang tidak melibatkan bank secara langsung sebagai mediator, seperti kartu Suica, Manaca, dan Rakuten Edy. Anda mengisi ulang mereka di ATM masing-masing, dan kemudian Anda bisa berbelanja di toko-toko tertentu dengan kartu Anda - tidak ada tanda tangan atau informasi pribadi yang diperlukan.

Pada tahun 2020, saat waktunya Olimpiade Tokyo, pemerintah berharap J-Coins akan memiliki peran dominan dalam ekonomi Jepang, di samping bitcoin dan mata uang kripto yang lainnya. Ini akan menghemat orang asing untuk menukar mata uang lokal mereka dengan Yen Jepang, sehingga tidak kehilangan persentase uang yang masuk bursa atau kurs. Ini juga akan membantu orang-orang di Jepang tahu persis di mana pengeluaran mereka, tanpa harus khawatir dengan pajak konsumsi.




(ADP)