Pemilihan Kepala Daerah yang Langka dan Unik di Kota Karatsu Jepang

Akhir pekan kemarin, penduduk dari kota Karatsu di Prefektur Saga beramai-ramai mengunjungi tempat pemungutan suara untuk melakukan pilihan mereka dan menempatkan dewan kota terpilih untuk memimpin kota di periode selanjutnya. Dewan pemilihan kepala daerah lokal tidak bisa menentukan calon mana yang lebih disukai dari sekitar 800 surat suara. pemilihan tersebut dibagi sesuai dengan proporsi suara masing-masing calon yang diterima dari para pemilih lainnya. Namun, pada pemilihan kali ini para warga Karatsu dihadapkan pada dilemma, yakni untuk memilih diantara dua calon dengan nama yang sepenuhnya sama, Shigeru Aoki.


Kedua kandidat calon bernama Shigeru Aoki, dan tidak sampai disitu, bahkan keduanya menggunakan tiga huruf kanji yang juga serupa (青木茂). Salah satunya adalah calon incumbent berusia 56 tahun dan satu lainnya calon penantang berusia 43 tahun. Selain itu, yang menambah bingung para pemilih adalah keduanya merupakan calon independen, sehingga tidak dapat dibedakan dari partai. Mereka memiliki latar belakang pekerjaan yang mirip, Aoki pertama yang pernah menjabat setelah bekerja di sebuah perusahaan konstruksi dan Aoki penantang menjalankan perusahaan konstruksi sendiri. Mereka berdua menjalankan kampanye dengan tema yang sama “membuat Karatsu City lebih mandiri”, dan basis kekuatan pemilih berada di lingkungan yang sama.

Bahkan, masing-masing Aoki telah mengklaim bahwa pendukung yang bingung tidak sengaja masuk ke markas lawan mereka untuk menawarkan kata-kata penyemangat. Ini menambahkan kesulitan tambahan untuk kampanye karena selain menyampaikan platform mereka, mereka harus entah bagaimana membuatnya jelas, Shigeru Aoki mana yang berbicara kepada mereka.

Ini juga akan menjadi masalah bagi penyelenggara pemilihan, Ketika tiba saatnya untuk menghitung surat suara yang ditulis tangan, bagaimana mereka bisa yakin Shigeru Aoki mana yang dipilih. Akhirnya, komisi pemilihan meminta para pemilih untuk menuliskan usia, calon ‘incumbent’ atau ‘penantang’ di samping nama jika suara tersebut dimaksudkan untuk salah satu dari Shigeru Aoki, sementara terdapat 32 calon yang menyalonkan diri untuk 30 kursi.

Walhasil, pesan yang tidak sampai kesemua orang membuat beberapa surat suara dinyatakan tidak sah, karena dinyatakan gagal untuk membedakan kedua calon dengan nama yang sama itu. Termasuk beberapa surat suara yang menuliskan ‘yang lebih tampan’ disamping nama Shigeru Aoki.

Ini kali pertama terjadi di Karatsu, di mana dua kandidat dengan nama yang identik mencalonkan diri dalam pemilihan. Namun, menurut Mainichi Shimbun, hal serupa pernah dialami kurang lebih tiga kali dalam sejarah Jepang. Memiliki dua calon dengan nama yang sama, dituliskan dengan huruf kanji yang sama persis, dalam pemilu lokal di daerah yang sama dianggap sebagai sesuatu yang sangat langka.








foto: japantimes

(ADP)